Sesepuh Ciamis Angkat Bicara Soal Aksi Mahasiswa Universitas Galuh

Buletin Indonesia News
CIAMIS, — Aksi unjukrasa Mahasiswa dari sejak tahapan penjaringan hingga penetapan dan pelantikan Rektor Universitas Galuh (Unigal) masa jabatan 2018-2022 mengundang perhatian dari Sesepuh Ciamis. Aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa memang merupakan hal yang wajar dalam menyampaikan aspirasi, tetapi bukan didasari oleh mobilisasi demi memaksakan kehendak untuk kepentingan elit-elit kampus.

Sesepuh sekaligus salah satu Rundayan dari silsilah Kerajaan Galuh Imbanagara, Raden Enggun S. Rachmat mengungkapkan dibalik adanya aksi Mahasiswa tersebut muncul sejumlah kejanggalan setelah melihat video aksi tersebut dimana salah satu dari dua Kubu Mahasiswa yang berunjukrasa berbarengan dengan sejumlah Dosen, pengurus Yayasan hingga dosen Kopertis berstatus PNS yang diperbantukan di Unigal. Rd. Enggun menilai ada dugaan memobilisasi massa Mahasiswa hanya untuk memaksakan kehendak demi kepentingan para elit kampus. Dia berharap hal itu seharusnya tidak terjadi, karena dapat merusak kearifan lokal Kampus dan memecah belah mahasiswa. “Kalau tidak puas, ya pastinya ada langkah-langkah bijak yang seharusnya di tempuh, bukan memperalat Mahasiswa” katanya kepada Wartawan, Minggu (8/7/18).
“Kita sebagai tokoh tentunya memantau setiap perkembangan yang ada di Wilayah Tatar Galuh Ciamis salah satunya Dunia Pendidikan, karena regenerasi masa depan Ciamis dalam dunia pendidikan, salah satunya di Universitas Galuh yang merupakan perguruan tinggi terbesar di Ciamis. Saya melihat ada dosen Kopertis yang seharusnya bersifat lebih netral dalam polemik pemilihan Rektor, karena kita ketahui Sebagaimana Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 1 tahun 2013 jo nomor 42 tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) Kopertis. Kopertis mempunyai tugas merumuskan kebijakan dan melaksanakan pengawasan, pengendalian, dan pembinaan perguruan tinggi swasta di wilayah kerjanya berdasarkan kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Ada Fungsi pengendalian disana, jadi jangan sampai keluar dari fungsinya. Kampus Universitas Galuh sebagai Perguruan Tinggi swasta yang bernaung di sebuah Yayasan harusnya lebih tegas menyikapi Dosen Kopertis yang tidak mengindahkan fungsinya” papar Rd. Enggun.

Dia menambahkan “Yayasan punya aturan tersendiri yang diatur dalam peraturan perundang-undangan dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan soal pengangkatan dan pemberhentian Rektor. Tidak mungkin, Yayasan melabrak aturan-aturan yang ada sebab keputusan yang diambil Yayasan untuk penetapan Rektor tentunya demi masa depan dan kemajuan kampus itu sendiri. Kampus itu jangan dirusaklah, masa depan anak cucu kita ada disana, kita didik dengan baik, jangan dijadikan alat kepentingan. Mahasiswa juga harus benar-benar membangun idealisme yang sebenarnya sebagai generasi yang intelektual, belajar, mengkaji dan lebih mendalami sebuat peristiwa agar tidak mencederai gelar intelektualna.” pungkas Rd. Enggun. (Agus**)

Berita Terkait :

Berdasarkan Aturan, Dr. Yat Rospia Brata, Drs., M.Si di Lantik Jadi Rektor Universitas Galuh

Beri Komentar!